Sunday, June 14, 2020

PENGALAMAN REUNI VIA ZOOM EX - HUFFCO VICO DIMASA PADEMIC COVID 19

Kemarin Penulis mengikuti Reuni Via Zoom dimasa bulan ke 4 Masa Pandemic Corona -19 yang diselenggarakan Panitia Halal Bihalal Ex Huffco/Vico : Pak Aswan, Pak Yusuf, Pak Aviv, Pak Andrew, Mbak Lies, Mbak Bina, Mbak Evi,  Mbak Venny yang dihadiri oleh kurang lebih 270 peserta Alumni Huffco/Vico. 

Sangat Unik Reuni yang diselenggarakan oleh Panitia Halal Bihalal,  dimana yang berhak meng-off maupun men-on Microphone dari 270 peserta hanyalah Panitia khususnya Broer Aviv  yang Ahli IT.  

Para Peserta berada di rumah masing-masing  dibeberapa kota, pulau di Wilayah Indonesia, maupun ada yang berada di luar negeri antara lain USA, Oman, Paris (Perancis),  Kuala Lumpur, Singapore. 

Peserta Reuni berasal dari berbagai Lintas Generasi  yang masa kerjanya berbeda-beda.  
Penulis Blog ini sempat  bekerja selama 5 Tahun di Huffco Indonesia pada tahun 1985 hingga 1990 / 1991 sebagai In House Legal Counsel di Exploration & Production yang pada saat itu  melapor kepada Sr.VP Exploration & Production yaitu semula Mr. Dick Agee yang kemudian diganti oleh Pak John S.Karamoy.

Acara mulai dibuka oleh Pak Aswan Siregar sebagai Ketua Panitia yang kemudian dilanjutkan sambutan Pak John S.Karamoy yang mewakili Generasi Senior.

Pak John sempat memperkenalkan Aspermigas (Assosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional)  yang diketuai beliau. 
Pak John  mengajak para Ex Karyawan Huffco/Vico yang telah banyak berpengalaman dalam bidang Operasi Perminyakan dan Gas baik management, operation exploration, geologist, geophisics,  drilling, teknik, engineering and construction, production, finance, audit, IT, Asuransi, human resource, logistic,  legal,  dokter dan profesi lainnya, untuk berkontribusi memperdayakan Perusahaan Minyak Gas Nasional, dimana ada beberapa Komite di Aspermigas  termasuk Komite Kilang.

Acara dilanjutkan  sambutan masing-masing Jurubicara departemen, yang dilanjutkan dengan Lomba Pantun. 

Terlihat dan terdengar banyak bakat terpedam yang berinovasi dan kreatif  melantunkan  berbagai Pantun.  
Hal ini sangat unik karena di masa Pandemic Corona - 19, para peserta Halal Bihalal  tidak dapat berkumpul melalui kerumunan didarat, sehingga dirubah Via Zoom.

Lumayan mengobati rasa kangen bersilaturahmi diantara rekan-rekan yang pernah bekerja di Perusahaan Minyak dan Gas Huffco Indonesia yang berubah nama menjadi Vico Indonesia yang memproduksi Minyak dan Gas /LNG.   

Kita ketahui setelah Ulang Tahun ke 50 Tahun dari Huffco/Vico, PSC (Production Sharing Contractnya tidak diperpanjang,  sehingga Bloknya  dikembalikan kepada Negara, yang  kemudian terindikasi dikelola oleh Pertamina.        

Kini para ex-karyawan Huffco / Vico sudah menginjak masa pensiun, maupun ada yang masih bekerja,  berkarya,  sesuai keadaan,  keinginan serta kesenangan mereka. 

Pak John menyatakan selain momong cucu,  jika ada kesempatan dapat tetap berkontribusi dalam mengembangkan potensi nasional dalam mengelola kegiatan operasi minyak & gas di Indonesia,

Setelah selesai berlomba pantun,  Panitia mengumumkan para lomba pemenang Pantun. 




Acara resmi pun ditutup oleh Pak Hilmi Panigoro, yang menyambut baik Halal Bihalal ini serta mengharapkan segera berakhirnya Masa  Pandemic Covid 19, dimana nanti jika sudah normal pulih kembali dipersilahkan untuk dapat menggunakan fasilitas gedung pertemuan Medco yang dipimpinnya.


Acara kemudian dilanjutkan dengan acara bebas,  untuk bersilahturahmi Via Zoom ini bagi yang  berminat.       

Sekian catatan sekilas  PENGALAMAN REUNI VIA ZOOM EX - HUFFCO VICO DIMASA PADEMIC COVID 19
  

Jakarta, 15 Juni 2020
Penulis
Agung Supomo Suleiman
Ex - In House Legal Counsel -  Huffco (1985 - 1990/1991) 

Sunday, April 26, 2020

SNAPSHOT SEKILAS GAMBARAN PANDEMIC COVID-19

Wah,  sudah lama, Penulis Blog AgungSS Experimental Blog ini tidak menulis dan menjumpai Pembaca melalui Blog ini. Hal ini  terutama disebabkan  saat ini  Penulis seperti juga para penduduk lainnya sedang mengisolasi diri di rumah hampir 1 1/2 (Satu setengah) Bulan semenjak bulan Maret 2020, terkait terjadinya penyebaran  wabah Corona - Covid - 19 yang telah diumumkan sebagai  Pandemic diseluruh dunia oleh WHO (World Health Organization). 
  • Kita sangat prihatin dengan penyebaran  Pandemic Corona - Covid - 19 ini diseluruh dunia dengan sangat cepat,  dimana untuk setiap perkembangan dari hari ke hari  dapat ditelusuri  antara lain  melalui Website : https://www.worldometters.info/coronavirus/
Selama ini kita sebagai manusia pada umumnya, merasakan "taken for granted" "atau "menerima begitu saja" segala kenikmatan  didunia, khususnya terkait kebebasan kita dapat  bergerak dan ber-mobilitas baik naik sepeda, kendaraan umum, mobil, motor, maupun jalan kaki, baik sendiri maupun bersama-sama, tanpa adanya hambatan. 
  • Namun dengan terjadinya Out-Break atau Penyebaran  wabah Pandemic Virus Corona - Covid - 19, maka berbagai Negara telah menerapkan berbagai ragam metode Jaga Jarak (Social Distancing), maupun ada sebagian negara  menerapkan "Lock Down partial" maupun "Lock Down sebagian kota yang termasuk Zona Merah".  Lock Down ini permulaan diterapkan oleh Pemerintah RRC di Kota Wuhan sebagai pusat Epicentrum dimulainya terjangkit dan penyebaran wabah Corona Covid - 19 ini pada sekitar bulan Desember 2019.  
Dari berbagai berita di Media Sosial, terlihat ada beberapa Negara melakukan kegiatan Pencegahan, mulai dari melakukan Test Masal dengan cepat seperti Negara Korea tanpa ada penerapan "Lock down", mengingat tersedianya alat Test di Negara Korea,  maupun ada negara seperti Italia,  Spanyol   yang telah melakukan Lock Down, mengingat banyaknya jumlah manusia yang terkena Covid-19 dalam periode  yang pendek diawal Tahun 2020.
  • Kita amati Swedia mengandalkan Herd Immunity, kesadaran dari masyarakat sendiri, dengan tujuan membentuk Kekebalan Bersama, guna melawan penyebaran Virus Corona ini,  dimana kehidupan berjalan normal tanpa ada aturan pembatasan, kecuali larangan berkumpul tidak boleh lebih dari 50 orang. 
Terdapat juga  contoh seperti negara Belanda,  dimana "tidak dilakukan Test"  dan diserahkan kepada masyarakat untuk "bertanggung jawab menjaga Jarak - Social Distancing" dan bekerja dirumah (Work From Home -WFH) serta meliburkan sekolah termasuk Day Care untuk penitipan anak-anak balita.  Namun, menurut informasi dari anak Penulis yang tinggal di Belanda, mulai minggu depan  sekolah mulai dibuka dengan cara  selang seling hari masuk sekolah termasuk Day Care.

Hal yang  mengejutkan  terkait jumlah signifikan manusia yang terkena dampaknya hingga tanggal 24 April 2020, adalah negara maju seperti USA,  dimana sesuai terbaca di data  Website : http://www.worldometers.info/coronavirus/ korban manusia yang wafat hingga per tanggal 24 April 2020 di USA mencapai lebih dari 50 ribuan, Perancis lebih dari 22 ribuan, Spanyol lebih dari 22 ribuan, Italy 25 ribuan,  German lebih dari 5 ribuan, Belgium lebih dari 6 ribuan, Belanda Lebih dari 4 ribuan. 

Namun menurut Para Ahli Peneliti sebenarnya tidak dapat dilakukan perbandingan riil antara satu dengan negara lainnya. 

Hal ini menurut Para Ahli Penelitian terindikasi bahwa perbedaan Jumlah yang terkena Virus Covid - 19, yang berbeda antara  Negara, khususnya antara Negara Maju dan Negara yang berkembang  adalah antara lain disebabkan  kemampuan  kecepatan melakukan pelaksaanaan Test yang memadai sesuai Standard Protokol Kesehatan WHO, secara masal pada faktanya adalah  berbeda satu dengan lainnya, tergantung jumlah ketersediaan Alat Test yang memadai pemenuhan Standard WHO, misalnya di Korea Selatan sangat cepat Pelaksaan Testnya, karena memang alat testnya yang memadai dan memenuhi standard WHO  sangat  cukup.   
  • Selain itu menurut Para Ahli Peneliti, kenapa  jumlahnya jauh berbeda, hal ini  karena seperti di USA Amerika Serikat, perhitungan yang meninggal juga dihitung bukan hanya dari yang sudah diketahui positif  Covid -19 melainkan,  jika meninggal   sedang dalam Pemantauan atau Pengawasan akan dimasukkan dalam jumlah angka Kematian karena Covid -19. Belum lagi jumlah yang dikarantina di rumah sendiri,  karena tidak cukup memadainya daya tampung kapasitas jumlah menampung Pasien,  karena Level positifnya ada yang berat, sedang, hingga ringan.         
Sedangkan di Indonesia, menurut laporan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid - 19, yang "dilaporkan sebagai angka kematian karena Covid-19"  adalah pasien yang sudah terbukti Positif dengan Test Real Time "PCR".
  • Adapun jika yang meninggal dalam masa (Orang Dalam Pemantauan) ODP maupun (Pasien Dalam Pengawasan) PDP, dimana hasil Test Real Time (dengan PCR) belum keluar hasilnya,  tidak dimasukkan dalam Laporan Daftar Pasien Meninggal karena Covid-19.  Hal ini juga tidak termasuk yang meninggal, pada masa Penyebaran Covid -19, yang bukan atau tidak berada di Rumah Sakit rujukan, namun dimakamkan dengan Protokol Protap Pemakaman Korban Covid-19. Selain itu perhitungan kematian di Indonesia dihitung  mulai bulan Maret 2020. Maka terlihat bahwa jumlah manusia yang telah ditest Rapid Test maupun PCR masih sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah seluruh penduduk di Indonesia.
Hal diatas,  tentunya membutuhkan waktu yang berbeda antara satu Negara dengan Negara lainnya untuk mengetahui kapan Puncak Kurva dari Penularan Terkena Penyebaran Covid-19. Para Ahli Epidemologi adalah  yang mempelajari dan menguasai kecenderungan Kurva dari Penyebaran Virus Covid - 19, baik level Internasional maupun Nasional, dimana dalam Grafik Kurva terlihat adanya kenaikan penyebaran hingga mencapai Puncak Penyebaran selanjutnya akan terjadi  penurunan.       
  • Dalam Era  Globalisasi saat ini kita dapat memperoleh  berita mengenai status laporan  Covid 19 diberbagai belahan didunia ini melalui You Tube yang merupakan rekaman berita baik dari BBC, CNN, Al Jazeera, Global News, maupun berita TV dalam negeri antara lain TV One, I News, TVRI, Berita Satu, Kompas TV, Metro TV, sehingga kita dapat melakukan perbandingan cara penanganan Pencegahan dan Pengobatan Covid-19 antara satu dengan negara lain.
Terasa  sangat mengkhawatirkan dan memprihatinkan, namun tidak boleh Panik,  apa yang dialami oleh seluruh penduduk dunia  yang dimulai  pada akhir ujung tahun 2019 di Wuhan dan kemudian menyebar sangat cepat pada ujung permulaan tahun 2020 ini. 

Kita amati bahwa setiap negara masing-masing baru belajar menerapkan pengelolaan pencegahan dan pengendalian penyebaran Covid 19, sesuai keadaan peta kekuatan ekonomi, politik,  keuangan baik dalam level negara maupun  tingkat masyarakatnya,  yang berbeda satu dengan lainnya diberbagai belahan didunia ini.   
  • Di Indonesia, yang berpenduduk lebih dari 250 juta, dimana penduduknya terpencar diberbagai kepulauan, terlihat bahwa Epicentrumnya adalah Jakarta, mengingat Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia menjadi Pusat Konsentrasi Penyerapan tenaga kerja, dari berbagai wilayah di Indonesia. Dengan banyaknya dirumahkannya karyawan, maupun tidak dapat beraktifitas Pekerja Lepas di Jakarta, maka terlihat bahwa banyak Penduduk yang berasal dari Luar Jakarta, yang telah balik ke kampung halamannya, yang secara tidak sadar menjadi Carrier atau Pembawa Wadah Covid - 19 ini kedaerah asalnya.    
Kita amati Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah harus belajar (i) saling  berkoordinasi serta berkomunikasi secara lebih baik diantara mereka maupun (ii) mengkomunikasikan langkah kebijakan serta usaha pencegahan penyebaran Covid-19 yang dilakukan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah  kepada Publik, dimana telah dibentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 oleh Pemerintah. 

Di kota Jakarta per tanggal 23 April 2020, sesuai data Website corona.jakarta.go.id  disebutkan yang terkena positif adalah 3,605 dari 8,211 Kasus Positif secara Nasional, sehingga Jakarta adalah Epicentrum dari Penyebaran Wabah Covid-19 di Indonesia.  
  • KETERBATASAN KETERSEDIAAN ALAT PELINDUNG DIRI  BAGI TENAGA MEDIS. 
Di berbagai Negara, termasuk Negara Maju, terkesan adanya keterbatasan "Alat Pelindung Diri ("APD")" yang memadai,  guna dapat melindungi keselamatan, keamanan tertularnya Covid-19  bagi Tenaga Medis. 

Hal ini mengakibatkan banyak menelan  korban tenaga medis yang berada di Garda terdepan di Rumah - Sakit rujukan, sehingga sangat rentan  terkena penularan  Covid 19 dari Pasien yang ditangani. 
  • Kejadian  nyata tragis ini  tidak  saja  hanya dialami  Negara Indonesia,  melainkan juga dialami  negara lain seperti di Inggris,  Amerika Serikat,  Spanyol,  Italy, sebagaimana kita saksikan di berbagai berita dunia baik rekaman di You Tube maupun langsung dari Media TV BBC, CNN, France 24, DW maupun TV Lokal Indonesia. Lebih dari 200 negara terkena penyebaran Virus Covid 19 ini sebagaimana kita lihat di daftar List Negara yang tersebut  di website : http://www.worldometers.info/coronavirus/
Seluruh dunia terkesan "tidak menyangka dan tidak siap"   dalam   menghadapi  "Penyebaran Virus Covid-19 yang begitu sangat  cepat penjalarannya", yang dimulai  dari Pusat Epicentrum Kota Wuhan sekitar Desember 2019,  hingga  menjalar ke berbagai belahan dunia lainnya, dimana  menurut para Ahli, teindikasi  dimulai Out Breaknya sudah terjadi semenjak bulan Januari, Februari,  Maret  tahun 2020, dimana hingga kini "belum ada kepastian hingga kapan ujung berakhirnya Penyebaran Pandemic Wabah Covid-19 ini".  
  • Kita amati adanya  polemik di Media Sosial mengenai apakah asal muasal  munculnya Virus Covid 19 ini  berasal  dari (a) Pasar Kelelawar di Kota Wuhan ataukah (b) dari Laboratorium Virus di Kota Wuhan yang terletak lebih kurang 280-an meter dari Pasar Kelelawar di Wuhan. Terindikasi Negara Besar seperti Cina dan USA saling menyalahkan satu dengan lainnya, terkait asal muasal penyebaran Wabah Corona Covid - 19 ini.
Pemerintah USA dibawah pimpinan Presiden Trump  menyalahkan ketidak keterbukaan Informasi dari Pemerintahan RRC mengenai asal usul munculnya Virus Corona Covid 19 ini. Bahkan  Presiden Trump telah menyalahkan WHO dan menunda Pemberian Dana Donor kepada WHO, dimana Trump mengklaim USA menjadi donor terbesar kepada WHO.
  • PILIHAN ANTARA  PRIORITAS KESEHATAN - PENCEGAHAN PERLUASAN PENYEBARAN VERSUS MENYELAMATKAN EKONOMI. 

Selain dari Aspek kesehatan, kita juga amati bahwa diberbagai Negara didunia mengalami tekanan ekonomi dan keuangan,  akibat kebijakan diharuskannya  "Tinggal di Rumah (atau Stay at Home)", Jaga Jarak (Social Distancing), guna mencegah mata rantai penyebaran Wabah Pandemic Corona Covid -19 ini. Guna menekan Kurva Meningginya Penyebaran Covid - 19, maka langkah yang di Prioritaskan diambil adalah Melakukan Social Distancing atau Jaga Jarak baik Sosial maupun Phisik, dimana antara lain di terapkan Lock Down Satu Kota atau Negara, yang mengakibatkan terganggu atau terhentinya pergerakan Ekonomi, karena semua kegiatan yang dapat berkumpulnya orang banyak di batasi atau ditutup. 

Maka terjadi dilema disetiap Negara dalam memilih Prioritas Yang Mana didahulukan. Hal ini jelas akan meningkatkan jumlah angka pengangguran maupun kemiskinan diseluruh dunia ini. 
  • Kita saksikan  dari Rekaman You Tube di beberapa Negara Bagian USA, banyak masyarakatnya melakukan demonstrasi untuk menghentikan Lock Down antara lain di Washington, Ohio, Michigan. 
Di Negara Afrika Selatan bahkan setelah Lock Down, banyak rakyatnya yang meng-antri panjang sekali, guna mendapatkan makanan, karena banyak penduduknya yang kelaparan, karena telah kehabisan makanan.
  • Adapun di Indonesia, dengan adanya kebijakan Tinggal Dirumah(Stay at Home), Jaga Jarak (Social Distancing), Kerja dari Rumah (Work From Home), atau di Indonesia dikenal dengan istilah "Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)" menyebabkan  banyak pekerja harian informal yang kehilangan mata pencaharian akibat adanya PSBB ini.  Kita amati dari Berita di Media TV, bahwa pada awalnya yang terhimbas adalah mulai  kosongnya Hotel serta Restoran,  sehingga banyak Hotel dan Restoran  yang tutup sementara. Hal ini tentunya menghimbas Agen Tour and Travel atau Agen Wisata dan Perjalanan. 
Adapun disektor Bidang Penjualan, disebabkan kebijakan untuk tidak berkumpul di keramaian, maka himbasannya terjadi pada para Pedagang di Pasar-pasar, Pedagang  Kaki Lima, Pengemudi Ojek yang biasa mengangkut Penumpang. pekerja  di warung-warung dan Restoran. 

  • Maka terindikasi bahwa hingga bulan April 2020 ini,  banyak  Perusahaan yang telah mengalami kerugian secara keuangan, karena tidak ada kegiatan penjualan, sehingga terpaksa harus merumahkan karyawannya sementara, bahkan mem-PHK Karyawan karena tidak ada pemasukan. 
Memang sangat memprihatinkan efek dan himbasan dari Penyebaran Pandemic Virus Corona Covid 19 ini terhadap kegiatan perekonomian  di semua Negara di seluruh Belahan di Dunia ini.

Kita sebagai masyarakat awam yang semula tidak mengetahui hal Virus,  terpaksa dan dipaksa untuk mendengarkan keterangan mengenai pencegahan serta pengenalan Virus Covid 19 dari Para Ahli Virus maupun Staf Medis baik di TV maupun Media Sosial, guna "menumbuhkan kesadaran bahayanya Penyebaran Pandemic Virus Covid - 19 ini".

Terkait  masa inkubasi, kita ketahui menurut para Ahli adalah 14 (Empat Belas) hari,  masa berjangkitnya Virus ini pada setiap badan manusia, yang bersentuhan dengan Carrier (atau Pembawa Penularan Covid 19 ini). Jika daya tahan tubuh kita baik,  maka menurut para Ahli,  kita dapat terhindar dari Virus Covid-19. 

Pemerintah melalui Gugus Tugas Pencegahan Percepatan Covid-19,  telah menekankan kepada masyarakat  untuk secara "Disiplin dengan kesadaran yang tinggi". melakukan hal antara lain dibawah ini  :
  • (a) berdiam dirumah (b) rajin mencuci tangan dengan sabun  (c) menggunakan Masker, (d) memakan makanan yang banyak mengandung Vitamin C maupun Vitamin E (e) Mendeteksi indikasi  terkena Covid 19 dari yang ringan hingga yang berat. (f) bekerja di Rumah Work From Home (WFH) (g) melakukan olahraga, namun jangan olahraga memaksa  sampai lelah sekali,  yang dapat menyebabkan stamina badan kita menurun,  sehingga rentan terkena Covid 19.(h) jika kita terpaksa keluar rumah untuk membeli keperluan bahan pokok keperluan sehari hari, kita harus   menghindari kerumunan - keramaian.   
Disebabkan banyak pekerja lepas yang diminta untuk tidak masuk kantor dan berdiam dirumah, maka terlihat banyak Pekerja pendatang dari daerah, yang pulang kampung kedaerahnya, atau awal mudik, karena berbagai alasan termasuk kemungkinan tempat kost  sangat kecil (mungkin lebih dari 3 atau 4 orang satu kamar kost), sehingga rentan penularan karena tidak dapat menjaga jarak satu dengan lainnya. 

Hal mengenai balik ke tempat asalnya masing-masing ini terindikasi terjadi dibanyak negara di seluruh dunia ini.  Malah di India, kita dapat amati banyak penduduk yang berjalan kaki pulang kedaerah asalnya,  karena transportasi umum telah dihentikan oleh Pemerintah setempat. 
  • Kita  amati setiap Negara, akan meminta warga negaranya untuk kembali ke negara asalnya atau mereka minta kepada Pemerintah asal Negara mereka untuk membantu mempulangkan mereka ke Tanah Air asal mereka. Hal ini telah dilakukan oleh Pemerintah Jepang, Amerika, maupun banyak negara termasuk Negara Indonesia yang mengangkut Warga Negara Indonesia yang berada di Wuhan. 
Sangat jarang terjadi kegiatan pulang Tenaga Kerja secara masif dan berskala besar seperti yang terjadi di akhir tahun 2019 dan diujung Tahun 2020 ini. Memang sangat sedih dan memprihatinkan kita bersama, atas meluasnya penyebaran Pandemic Virus Corona Covid 19 ini. 
  • SEMUA PIMPINAN DUNIA DI-UJI  dan DITANTANG : "KETANGGUHAN DAN KESIGAPAN MENGELOLA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN  PENYEBARAN COVID-19.
Semua Pimpinan dari berbagai Negara didunia ini, sedang  diuji dan ditantang : "ketanggugahan dan kesigapan" mereka mengelola Pencegahan Penyebaran Pandemic Covid 19 ini, di Negara mereka masing-masing,  dimana belum ada Vacine  yang ditemukan maupun obat yang dapat menyembuhkan Virus Corona Covid 19 ini. 

Bayangkan,  tiba-tiba banyak sekali negara yang pada faktanya "tidak mempunyai Fasilitas Kapasitas yang Cukup Memadai",  baik tenaga medis maupun perlengkapan Pelindung kepada Tenaga Medis Dokter maupun tenaga medis lainnya. Begitu juga "Kapasitas Daya Tampung Rumah Sakit", sangat kurang,  mengingat "banyaknya jumlah manusia yang perlu ditangani, pada "saat yang bersamaan", sehingga semua penanganannya adalah berdasarkan "Keadaan Darurat", yang tidak pernah dialami oleh semua Negara manapun didunia ini sebelumnya.
  • Para Ahli Virus, menegaskan bahwa  Virus Corona Covid 19 ini adalah Virus Baru, sehingga  Virus COVID- 19 ini  perlu dipelajari Khatarestic Virusnya. Tantangan Besar dari Para Ilmuwan Ahli Virus adalah berlomba-lomba membuat Vaksin, guna dapat mencegah Penyebaran Pandemic Corona Covid 19 ini. Di USA, INGGRIS (lembaga Oxford), maupun di Australia menurut berita sudah dibuat Vaksine yang dicoba kepada "beberapa sukarelawan manusia", dimana kita akan menunggu kabar lanjut perkembangan hasilnya.
Yah, begitulah, Snapshot Sekilas dari Penulis yang Penulis beri JUDUL :  SNAPSHOT  SEKILAS GAMBARAN  PANDEMIC  COVID-19


Penulis 
Agung Supomo Suleiman
Jakarta, 26 April 2020
Masa Isolasi Di Rumah DIMASA PANDEMIC COVID-19 

Sunday, March 8, 2020

SNAPSHOT GOWES JALUR SEPEDA JL FATMAWATI SENAYAN SUDIRMAN

Penulis pada hari Sabtu, tanggal 7 Maret 2020, Gowes phase kedua  dari Rumah di Kompleks Deplu, Cipete (Cilandak), Gandaria Selatan, menuju Gelora Bung Karno ("GBK"),  Senayan untuk melanjutkan ke Jl. Thamrin, belok ke Bendungan Hilir serta mampir di Jl.Mesjid, Pejompongan, tempat tinggal  sewaktu Penulis masih sekolah di SMP Sumbangsih.

Penulis pada masa SMP Sumbangsih, sekitar tahun 1965 hingga 1967, jika ke Sekolah SMP Sumbangsih, Setiabudi, adalah naik sepeda. Saat ini  Penulis merasakan mengulang hoby dan kesenangan bersepeda atau Gowes, karena merasakan manfaat menyehatkan dan membuat segar badan maupun pikiran.
Pada Phase Gowes kedua kali menuju Senayan dari Kompleks Deplu,  Penulis memasang on  Applikasi Fitbit d  HP Penulis, sehingga mengetahui waktu tempuh dari Kompleks Deplu, Cipete menuju Senayan adalah +/-  9 Km, 40 menit.
Oh ya, Penulis, teringat sewaktu di Enschede, Belanda, pada tanggal 1 Feb 2020,  diajak Mantu naik sepeda atau Gowes di Enschede dan Usselo dengan mulai start dari no. 35, dengan menempuh jalur sepeda sepanjang +/- 26 km, Enschede, ke Usselo, kembali ke Enschede, tempat tinggal Anak Mantu dan Cucu Penulis di Enschede. 
Phase Pertama Explorasi Gowes Jakarta Cipete Senayan,  pada tanggal 16 Agustus 2019 adalah melalui Jl Fatmawati, namun belum ada Jalur Sepeda, sehingga Penulis harus lewat Jl. Hang Tuah muncul di Universitas Moestopo. Penulis saat itu  menempuh  Gowes ke Senayan dari Kompleks Deplu, Cipete,  dan kembali ke Kompleks Deplu, berjarak  22.63 km selama 3 Jam 40 menit sebagaimana terbaca dalam Laporan perlengkapan "Jam FitBit". 
Pada Phase Kedua Explorasi Gowes ke Senayan dari Kompleks Deplu, tanggal 7 Maret 2020,   "telah  ada Jalur Sepeda dari Jl Fatmawati, menuju Senayan".
Maka  Penulis Gowes keluar Kompleks Deplu, langsung, ke Jl. Fatmawati Dekat Stasiun MRT Haji Nawi,  menuju  ke  Blok M,  guna menuju  Jl. Sudirman dengan arah tujuan ke Gelora GBK,  Senayan. Terasa aman dan nyaman sekali naik Sepeda melalui "Jalur Sepeda" yang tersedia dan dibuat oleh Pemerintah DKI.  
Penulis merasakan sangat nikmat  dan menyenangkan dapat menggunakan Jalur Sepeda,  dimana banyak Pe-Gowes lain dengan rombongan, menggunakan Jalur Sepeda ini. 
Applikasi Fitbit di HP Penulis, menunjukan jarak tempuh dari Kompleks Deplu, Cipete ke Senayan  adalah +/- 9 km yang  ditempuh 40 Menit.
Dari Senayan Penulis melanjutkan Gowes  menuju Bendungan Hilir dimana tersedia Jalur Sepeda, melalui bawah Jembatan Semanggi melalui Jalan Sudirman.  


Penulis berhenti sejenak di Circle K, Bendungan Hilir, guna membeli Air Minum, pisang dan coklat kecil, untuk  menambah energi  dan menghindari Dehedrasi.

Setelah berhenti +/-  15 Menit, Penulis melanjutkan Gowes ke Pejompongan untuk melihat "bekas tempat tinggal" keluarga Penulis, sewaktu Penulis masih sekolah di SMP Sumbangsih, yaitu di Jl. Mesjid Pejompongan, yang sudah dijual kepada pihak lain. 


Ternyata disebelah rumah sudah ada Tukang Mie Bakso, sehingga Penulis beristirahat dan mampir untuk memakan Mei Bakso yang enak guna menambah energi. 

Penulis makan Mie Baso, sambil istirahat sebentar, lebih kurang 30 menit.  

Penulis meminta tukang Mie Bakso  untuk menfoto Penulis dengan Sepeda, guna menjadi kenangan, dan menceritakan bahwa Penulis dahulu bertempat tinggal di Jl. Mesjid Pejmpongan, Jakarta ini
Setelah makan Mie Bakso, Penulis melanjutkan  Gowes ke bekas Rumah tempat keluarga Isteri Penulis tinggal di Danau Poso, Pejompongan,  yang juga telah dijual.


Dari Pejompongan, Penulis hendak balik ke rumah di Kompleks Deplu, Cipete, namun  agak binggung  mencari jalur sepeda untuk kembali, dari Semanggi ke Pejompongan, apakah harus lewat jembatan,  menuju Senayan lewat Wisma Lumba-Lumba, ataukah harus lewat Jl. Gatot Subroto menuju Semanggi. 

Dalam keadaan bingung, Penulis, memilih Gowes keluar ke Jl Gatot Subroto menuju Semanggi. dengan naik jembatan yang  ada tanda arah Panah ke Blok M, tapi ternyata tidak ada Jalur sepeda,    dimana Penulis  kemudian turun Jembatan menuju  ke Jl Sudirman depan Polda Metro Jaya.

Mungkin Penulis seharusnya melewati Jembatan yang menuju Senayan dari Wisma Lumba-Lumba atau apakah harus lewat  Karet untuk kemudian mutar balik lewat  Casablanka. 

Penulis kemudian Gowes lewat Jalur Sepeda yang tersedia di Jl Sudirman, dimana ada tempat Parkir Sepeda dekat Tempat naik MRT.  

Penulis sempat berfoto dengan SATPAM yang baik hati bersedia berfoto dengan Penulis sebagai kenang-kenangan. 

Penulis kemudian melanjutkan Gowes hingga lewat Sekolah Mesjid Al Azhar tempat kedua anak Penulis,  dahulu pernah bersekolah dari TK hingga SMP. Penulis kemudian berhenti sebentar untuk membuat photo. 

Terlihat nyaman di Sekolah Al Azhar tersedia lapangan bola,  dimana terlihat anak-anak sekolah sedang bermain bola. 

PERBANDINGAN KETERSEDIAAN TAMAN DI JAKARTA DAN ENSCHEDE.

Terkait dengan Taman atau Lapangan Hijau, Penulis merasakan bahwa di Jakarta sangat langka dan jarang tersedianya  lapangan atau taman.

Hal ini sangat beda sekali dengan di Enschede, Belanda, tempat mantu, anak dan cucu Penulis tinggal,  dimana banyak sekali taman hijau yang luas, kita temukan dimana-mana, sehingga  kita dapat berjalan dan bermain di Taman rumput tersebut.

Sebagai perbandingan kita dapat amati bahwa di Enschede, Negeri Belanda, dalam pembangunan tata ruang kota,  kebijakan dari Pemerintah Provincial Enschede berpihak kepada pengendara sepeda, dimana tersedia jalur sepeda  yang teratur  maupun dibangunnya banyak taman - taman  hijau yang luas.
Penulis merasakan kenyamanan dengan keberadaan Taman hijau yang luas di Enschede.  Belanda, dimana jika kita sedang mau menghilangkan kejenuhan,  kita dapat  berjalan kaki di Taman Hijau yang biasanya ada binatang Kambing maupun Danau kecil serta sungai dan Bebek maupun Angsa Putih. 
Terlihat penataan kota di Belanda,  Masyarakat Umum Publik secara bersama-sama,  bersedia  mengorbankan rumahnya tidak terlalu besar, guna dapat dibangun infrastuktur Pejalan kaki, maupun  Jalur Sepeda yang  teratur, berdampingan dengan jalan kendaraan mobil, serta tempat parkir mobil  yang terintegrasi serta dibangunnya banyaknya taman atau park  hijau yang luas. Maka  penduduknya dapat mudah ke taman untuk berolahraga jalan kaki dan menghirup udara segar.    
Mungkin di Jakarta sudah sulit mencari atau membuat taman hijau, karena Pemerintah Kota atau Pemerintah Provinsi lebih mementingkan lahan untuk Mal, yang menunjukan keberpihakan kepada Kapitalis Investor Mal  maupun untuk Properti - perumahan, dan sangat minim keperpihakan tersedianya Taman atau Lapangan hijau.
Hal ini, jelas menyebabkan kurang sekali tersedianya Taman main bagi penduduk kota termasuk anak-anak yang membutuhkan taman hijau untuk bisa bernafas dan bermain. 
  
Bahkan daerah resapan air yang rendah maupun rawa, yang harusnya memang secara alamiah merupakan  tempat penyerapan dan penampungan air hujan, telah  banyak dirubah dan diuruk untuk pembangunan Mal serta Properti. 
Tindakan Kebijakan Pemerintah, yang tidak memikirkan pembangunan Taman hijau serta danau atau tempat penampungan resapan air,  jelas menghilangkan tempat penampungan air hujan; Hal ini jelas mengakibatkan air  hujan tidak mempunyai tempat berkumpul, sehingga melimpah di jalan - jalan, dalam keadaan hujan deras menguyur kota, yang  secara  nyata mengakibatkan banjir dimana-dimana  di kota Jakarta.  
Populasi penduduk di Jakarta, secara demografi,   jumlahnya lebih dari  10 Juta, sedangkan di kota- kota di  Belanda, misalnya Amsterdam penduduknya +/-  700 ribu, dimana seluruh Negeri Belanda jumlah populasi penduduknya hanyalah  17 Juta,  adapun Indonesia jumlah keseluruhan populasinya 250 juta-an. 
Luas keseluruhan Indonesia memang sangat luas terbentang dari Sabang hingga Merauke yang terdiri dari kepulauan, yang dipisahkan dengan lautan, sehingga  nampaknya terlalu luas untuk ditangani secara Sentral oleh Pemerintah Pusat. 
 Maka dibutuhkan  adanya pembagian tugas  untuk menata daerah Provisinsinya masing-masing oleh Kepala Daerah Gubernur maupun Bupati serta Walikota. 
Namun alasan penduduk banyak dan padat  tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak bisa menata kota secara teratur, karena Negara Cina, juga sangat luas dan populasi penduduknya padat lebih dari 1, 4 Milyar,  namun ketersediaan jalan yang memadai dan nyaman sangat diperhatikan oleh Pemerintah,  dan Transportasi Umum yang nyaman sangat diperhatikan untuk dibangun oleh Pemerintah setempat dengan baik dan teratur. 
Penulis setidaknya mengetahui hal ini,  karena sewaktu masa kecil Penulis  pernah tinggal di Peking selama 4 Tahun, sewaktu Orang tua Penulis yang Diplomat ditempatkan di Peking, dimana Infrastruktur maupun transportasi umum memang sudah diperhatikan oleh Pemerintah setempat pada tahun 1958-an. 

Kembali ke masalah Gowes melalui Jalur Sepeda Jalan Fatmawati,  Penulis pada akhirnya telah sampai ke Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berseberangan dengan Kompleks Deplu, Cipete, Cilandak, Jakarta Selatan dengan jarak tempuh 23, 61 km dan ditempug dalam waktu 172 menit atau lebih kurang 2 jam.     

Beginilah sekelumit Snapshot SNAPSHOT GOWES JALUR SEPEDA JL FATMAWATI SENAYAN SUDIRMAN,  dimana Penulis menikmati ber Gowes melalui "Jalur Sepeda" yang tersedia dari Kompleks Deplu, Cipete, Gandaria Selatan, keluar ke Jl.Fatmawati menuju ke Senayan, Bendungan Hilir, Pejompongan dan kembali ke Kompleks Deplu, Cilandak, Gandaria Selatan melalui Jalur Sepeda terurai diatas.

Jakarta, 3 Maret 2020
Agung Supomo Suleiman  
     


Sunday, February 2, 2020

GOWES MUSIM DINGIN DI ENSCEDE DAN USSELO

Wah kemarin tanggal 1 Feb 2020, Penulis diajak Mantu yaitu Matthias naik sepeda atau Gowes di Enschede dan Usselo dengan mulai start dari no. 35, dimana diajarkan oleh mantu bahwa karena banyak orang di Belanda, senang bersepeda maka dibuat Peta Fietsnetwerk yang ditempel dan dipasang di Tiang Papan Pengumuman Peta Fietsnetwerk di Pinggir jalan. 

Titik kita  mulai start untuk melakukan perjalanan gowes ke Usselo dan balik kembali ke Enschede sesuai petunjuk Peta adalah no 35.  terus berurutan 41 links af, 80 links af, 45 links af, 43 rechtdoor, 42 rechtdoor, 61 rechts af Einde. 

    Itulah pelajaran Ilmu bersepeda pertama yaitu melihat Peta dengan keterangan Nomor angka serta arah gambar Panah yang dipasang di Tiang Papan Pengumuman Peta fietsnetwerk dipinggir jalan tersebut.
Hal ini  Penulis peroleh dari Mantu, agar kita tidak menyasar sehingga nanti kita akan melihat tanda Panah dengan Mulai Start no. urut 35.

Semula sebelum melihat peta kita sudah bersepeda berangkat dari rumah anak mantu dan cucu di Enschede, untuk kemudian berhenti sebentar di EntraTown, Enschede,   minum Juice Alpukat agar ada energi. 

Setelah berhenti sekitar 15 menit mulailah kita melakukan perjalanan, dimulai dari Titik No. 35 Map Usselo  diatas.

Seru udaranya dingin lebih kurang 8 derajat Celsius, namun terasa segar.  Banyak rambu -rambu jalan yang kita harus perhatikan dimana Jalur bersepeda tersedia disebelah kanan, jalan raya.

Penulis harus mengikuti tanda-tanda  dari arahan tangan yang diberikan oleh Matthias. 

Dalam perjalanan, dipenyeberangan sepeda, Penulis berhenti bukan ditempat sepeda melainkan di lokasi jalan kendaraan berupa garis kotak-kotak silang perkalian, sehingga mengakibatkan adanya mobil yang lewat tanpa Penulis ketahui.
Penulis diingatkan oleh mantu Penulis,  bahwa jika hendak berhenti atau merubah letak sepeda haruslah ditempat aman dijalur sepeda dan bukan di kotak yang ada  garis silang-silang seperti perkalian yang merupakan jalur Mobil. Itulah kesalahan pertama dari Penulis, maklum jalur jalan sepeda di Esncehede adalah sebelah kanan, bukan disebelah kiri seperti di Jakarta.

Perjalanan dan pemandangan di Usselo didaerah peternakan sapi terpampang luas ladang rumput menghijau untuk makanan sapi. 
    Rumah  Petani tampak besar seperti terpampang di photo tulisan Penulis ini.



    Oh ya,  Penulis berangkat bergowes dengan mantu jam 12.00 siang, dari rumah, istirahat 15 menit minum Jus Aphokat dan Jus Strawberry, dan menempuh perjalanan hingga jam 16.00 atau jam 4.00 sore, tanpa berhenti. 
    Rasanya nyaman sekali daerah yang dilalui oleh Gowes Penulis, dimana Penulis harus memperhatikan Nomor urutan keberapa,  dan  arah panah  yang terlihat di Papan Petunjuk Nomer serta arah Panah.
    Sebagian jalan untuk sepeda, jika di hutan  ada yang beraspal.   
    Namun jalan sepeda yang berada di Ladang Petani masih tanah sehingga kita harus berhati-hati jika ada yang berlobang karena basah terkena hujan. 

    Tidak terasa lumayan perjalanan lebih dari 22 Km, dimana Penulis  pasang Fitbit di HP, namun ditengah jalan,  HP Penulis mati karena low baterei.       

    Pengalaman bergowes di musim dingin di Enschede dan Usselo dengan suhu 8 derajat Celscius merupakan pengalaman menarik bagi Penulis,  setelah terlebih dahulu pernah ber - Explorasi bergowes di Jakarta.  

    Matahari ditengah jalan perjalanan di ladang rumput Usselo,  bersinar,  sehingga membuat indah pemandangan ladang rumputnya.

    Sekian dulu tulisan Penulis Sore hari diedit malam hari.  

    Tanggal 2 Februari 2020   
    Enschede,
    Agung S.Suleiman
      Save 80.0% on select products from LOBKIN with promo code 808LVZE6, through 11/2 while supplies last.

    Friday, August 16, 2019

    EXPLORASI JAKARTA CIPETE - SENAYAN PERSPEKTIF PEGOWES

    Setelah Penulis tidur malam ini,  tidak terasa terbangun ditengah malam ini, dimana Penulis kemudian membuka Blog dari Penulis dan ada keinginan untuk menulis, namun belum jelas apa yang hendak ditulis.
    O ya, Alhamdulillah kemarin Penulis EXPLORASI JAKARTA CIPETE ke   - SENAYAN  PERSPEKTIF PEGOWES  berangkat jam 9.15 pagi, setelah sebelumnya Gowes hingga ke Andara Residence, kerumah Kakak Penulis lewat jalan Fatmawati berangkat setelah Sholat Asyar.

    Rasanya enak menemukan jalan untuk bisa bergowes lewat Jalan Fatmawati ( Catatan : tidak ada jalur khusus Gowes),  dimana Penulis rajin bertanya kepada orang dipinggir jalan untuk mengetahui arah menuju Residence Andara, sehingga Alhamdulillah, Penulis  bersyukur dapat sampai di Residence Andara, dan mampir kerumah Kakak setelah menempuh 1 jam lebih, dimana kemudian minum teh anget dan berputar sebentar sekitar Residence Andara; Jelang Magrib Penulis pulang gowes ke rumah dan sholat Magrib berjamaah ditengah jalan pulang, sehingga pulangnya ternyata sudah malam dan Alhamdulillah bisa sampai rumah. Sebenarnya Penulis belum siap bersepeda malam karena Sepeda Lipat Peulis tidak dilengkapi dengan lampu depan maupun pantulan merah plastik jika kena sorotan lampu dibelakang sadle sepeda, sehingga Penulis bilang ke Kakak Penulis mau segera balik ke Rumah jelang Magrib mumpung belum gelap, namun ternyata ditengah jalan setelah Magrib berjamaah di salah satu Mesjid di pertigaan, telah gelap malam.
    Penulis memang sengaja mampir sholat Jamaah di Mesjid tersebut karena tidak mau ketinggalan Sholat Berjamaah di Mesjid Rumah ALLAH, guna mengapai Ridho ALLAH S.W.T. yang bernilai 27 kali dibandingkan dengan Sholat sendirian, sesuai Sunnah Hadist Nabi Muhammad S.A.W.
    Sebelumnya pada hari kemarinnya  Penulis ber-Gowes ke arah Toko Material Besi Aneka Logam dibilangan Jalan Fatmawati dekat ITC Fatmawati untuk menanyakan material baja ringan guna mengganti atap rumah yang sudah mulai kena rayap, mengingat sudah lama juga atap rumah Penulis dan isteri dibilangan Kompleks Deplu Cipete/Cilandak tidak diganti. 
    Wah, secara  tidak sadar tidak terasa disebabkan Penulis berusaha latihan praktek bersepeda - Gowes secara rutin minimal 30 Menit satu hari disekitar Cipete, maka  Alhamdulillah Penulis merasakan  "sudah mulai dapat mengendalikan Sepeda", karena pengendalian Sepeda itu penting agar terasa Sepeda yang kita kendarai "menyatu dengan diri kita" sehingga mudah dikendalikan Sepedanya. Penulis mulai ber- Gowes lagi, disebabkan mendapatkan nasehat dari Dokter 24 Jam dibilangan dekat Stasiun MRT Haji Nawi, untuk bersepeda guna mengatasi masalah "sesak nafas".
    Penulis Fokus memang pada hari itu untuk dapat menuju Senayan, sebagai suatu "Tantangan" yang harus berusaha ditaklukan, mengingat sehari sebelumnya Alhamdulillah, dengan izin dan pertolongan ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Kuat, Penulis  berhasil Gowes ke tujuan  Residence Andara tempat tinggal Kakak Penulis.
    Rasanya nikmat sekali bagi Penulis dapat bergowes menelusuri jalan antara lain melewati, Jalan Cendrawasih, Kompleks Deplu Cilandak, Gandaria Selatan, Stasiun MRT Haji Nawi,  Jalan Fatmawati, Panglima Polim dan belok lewat jalur dekat lapangan depan Apotik Melawai, jalan sekolah SMA 70,  Bulungan dan terus  Jalan Hang Lekir, Hang Tuah, Jl.Martimbang, Simprug hingga tidak terasa lewat dekat Universitas Moestopo dan ketemu  kearah Senayan yang kini bernama Gelora Bung Karno disingkat "GBK, yang bisa terlihat dilaporan Fitbit garis merah yang dihubungkan dengan HP Penulis.
    Oh ya sesampainya di Senayan, terlihat dari Papan Pengumuman di sekitar GBK,  bahwa Kendaraan Mobil dan Motor "tidak boleh berpakir disekitar lingkungan GBK", dengan sanksi akan digerek jika tetap berpakir
    Terlihat juga bahwa banyak tali pembatas kuning dimana kita tidak bisa melawatinya.   Penulis melihat ada Pintu masuk yang terbuka, dimana ada Pejalan Kaki yang sedang berolah raga jogging keluar dari GBK, sehingga  nampaknya Sepeda atau Pejalan Kaki, dapat  masuk kedalam lingkungan GBK, sehingga Penulis ber-Gowes ke tempat Tennis, dan melanjutkan ke Gedung Kolam Renang di GBK. 
    Penulis ber - Gowesnya santai saja,  sambil menikmati pemandangan meng-"Eksplorasi Jakarta melalui Perspektif Pe-Gowes", yang terasa sekali berbeda dengan perspektif,  jika kita  menaiki kendaraan umum atau kendaraan biasa. Penulis memang "Fokus" pada Tujuan hendak ber-Gowes dari Rumah di Kompleks Deplu Cipete/Cilandak, menuju ke Senayan sehingga tidak terasa bahwa Penulis telah ber-Gowes  lumayan jaraknya 22.55 - 22.63 km selama 3 Jam 40 menit sebagaimana terbaca dalam Laporan perlengkapan "Jam FitBit" yang bisa mengukur Denyut Jantung per menit, serta bisa dipasang jam berapa memulai Excercise, serta berapa jam serta berapa km ditempuh sekali Excercise, serta berapa Kalori yang dibakar, yang    dikaitkan dengan "Blue Tooth" dengan HP Penulis yang dipasang GPS, yang disetel mulai berangkat dari Rumah Penulis ke Senayan Kolam Renang hingga kembali ke rumah,  dimana Penulis sempat mampir pulangnya  memakan Soto Kudus di Jalan Kyai Ahmad Dahlan dan Sholat Dhuhur Jamaah di Mesjid At Taqwa Muhammadiyah bersama dengan anak2 sekolah, sebelum bergowes menuju pulang ke rumah. 
    Pengalaman ber Gowes diatas,     sangat menarik bagi Penulis, dan sangat bersyukur masih diberi izin oleh ALLAH S.W.T., dapat ber Gowes dengan santai sambil menikmati Pemandangan sepanjang jalan dari Perspektif Seorang Pe-Gowes, dimana terasa menyehatkan badan khususnya memperkuat otot paha dan betis serta telapak kaki, serta belajar untuk menguasai diri untuk mengendalikan sepeda serta mengatur pernafasan yang menurut Nasehat Dokter bagus untuk mengatasi Sesak Nafas, tentunya Penulis juga membeli menutup hidung dan mulut agar bisa mengurangi mengisap udara radikal bebas.
    Memang untuk menjaga kesehatan atas badan phisik kita, harus ada kemauan dan tekad yang kuat dari diri kita untuk mau memaksakan diri kita berolahraga, dimana kebetulan Penulis mengikuti nasehat Dokter 24 Jam untuk bersepeda dimana menurut Dokter, tekanan pada dengkul kita dengan bersepeda tidak terlalu membebani. Penulis sangat bersyukur kepada ALLAH S.W.T. masih diizinkan untuk mau ber Gowes, sehingga terasa lebih enak dan enteng badan kita, dan tidurnya juga lebih enak, dikombinasikan dengan minum 1 sendok makan Ekstra Virgin Olive Oil pagi hari dan 1 sendok makan malam hari, untuk menjaga kesehatan kita sesuai  kata para ahli yang menasehatkan Manfaat dari Olive Oil serta Manfaat dari bersepeda.
    Ok dulu sudah malam jam 3.18 AM, mau tidur dulu pada malam Sabtu 17 Agustus 2019

    Jakarta, 17 Agustus 2019 jam 3.18 AM  setelah tadinya sudah tidur, dan terbangun dan mau tidur lagi, d-Edit pagi Sabtu 17 Agustus 2019 jam 8.06 AM
    Agung Supomo Suleiman 

    MERDEKA - Dirgahayu Indonesia Raya
    .   
       .
           

    Save 80.0% on select products from LOBKIN with promo code 808LVZE6, through 11/2 while supplies last.